Skip to main content

Antibiotic resistance in sexually transmitted diseases Gonorrhoea

Antibiotic resistance is the ability of bacteria to become resistant to antibiotics. Occurs due to changes in the nature of bacteria so that they can no longer be killed. The process of healing the disease becomes difficult, takes a long time and the disease is more easily spread.



Gonorrhea infection is a sexually transmitted infection caused by the bacteria neisseria gonorrhoeae. Antibiotic resistance in neisseria gonorrhoeae has been around for 80 years. Gonorrhea is one of the pathogens that is threatened with antibiotic resistance.

Epidemiology.
Gonorrhea infection is curable, but its prevalence continues to increase. Gonorrhea infection is caused by :
  • Don't use condoms.
  • Increased urbanization.
  • Lack of education.
  • Failed therapy in infected persons.
  • Gonorrhea infection can cause localized outbreaks and spread rapidly.
WHO no longer recommends the use of these antibiotics as a treatment for gonorrhea infections :
  • Penicillin.
  • Tetracycline.
  • Ciprofloxacin.
  • Azithromycin.
  • Extended Spectrum Cephalosporins.
Prevention and control efforts are very important to reduce the level of antimicrobial resistance of gonorrhea.

Prevention that can be done by :
  • Identification of gonorrhea cases.
  • Partner notifications to prevent the spread of resistance.
  • Report any cases of resistance to cefixime, ceftriaxone and azithromycin.
  • Penicillins and tetracyclines should be discontinued (high resistance).
  • Quinolones are not recommended unless the resistance level is < 5%.
  • All sexual partners (within 60 days) should be given therapy.
  • No sexual intercourse 3 days after completion of therapy and asymptomatic.
Culture examination was carried out 3 days after completion of therapy in patients who experienced :
  • Pharyngeal infection.
  • Persistent symptoms.
  • Case on empiric quinolone therapy, relapsed.
  • When antibiotic resistance is suspected.
  • Cases of gonorrhoeae in children.
  • Case of Pelvic Inflammatory Disease.
  • Follow-up after 6 months of therapy.
  • Patient education about gonorrhea infection and its sequelae, risk factors, importance of therapy and attention to antibiotic resistance.


Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.