Skip to main content

Auditory Processing Disorder is different from deafness

Auditory Processing Disorder (APD) is a condition that is unable to properly process sounds that are heard due to an error in coordination between the ear and the brain. This condition results in sufferers often misinformation.


This disorder is not the same as being deaf. Auditory Processing Disorder generally occurs since childhood and cases in boys are more than girls.

Cause.
The cause of Auditory Processing Disorder (PPE) is unknown. The trigger factors :
  • Glue ear.
  • Genetic.
  • Premature birth.
  • Head injury.
  • Brain hemorrhage.
  • Brain tumor.
  • Meningitis.
  • Stroke.
  • Multiple sclerosis.
  • Jaundice.
  • Lead poisoning.
Symptoms.
Auditory Processing Disorder (PPE) Symptoms :
  • Difficulty understanding conversation, especially in crowded places.
  • Difficulty distinguishing words with similar sounds.
  • Difficulty to find a sound source.
  • Difficulty remembering commands.
  • It's hard to enjoy music.
Auditory Processing Disorder is associated with other diseases, such as :
  • Dyslexia.
  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Diagnosis.
  • The hearing test is done in a quiet room.
  • Test the patient's ability to hear sounds with different noises.
  • Test your hearing ability when talking to fast-talking people.
  • Test your listening skills when speaking with people with different accents.
  • Test listening skills when talking to people whose voice quality is not good.
  • Assess the patient's speech and language skills.
  • Psychological test.
  • Electrode test to evaluate the brain's response to sound.
Treatment.
Auditory Processing Disorder cannot be treated, but with the right response it will hone the patient's listening ability so that it builds good communication skills.

A person's hearing ability is not fully developed until he is 15 years old, so that is the right time to improve listening ability by :
  • Speech recognition exercises, look for sound sources and get used to concentrating on one sound point in a crowd.
  • Exercise memory and problem solving skills.


Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri

Kista Bartholin (benjolan di bibir vagina), penyebab dan gejalanya

Pernahkah anda mendengar istilah kista Bartholin? Kista Bartholin merupakan benjolan yang tumbuh pada lipatan bibir vagina akibat penyumbatan saluran kelenjar Bartholin. Kelenjar Bartholin terletak di seluruh sisi dinding vagina yang berfungsi mengeluarkan cairan untuk membantu melumaskan vagina saat berhubungan seksual. Tumbuhnya kista Bartholin umumnya terjadi pada wanita di masa usia subur atau menjelang menopause. Faktor penyebab tersumbatnya saluran kelenjar Bartholin : Iritasi jangka panjang pada vagina. Peradangan akibat infeksi bakteri Escherichia coli. Infeksi penyakit menular seksual akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae . Infeksi penyakit menular seksual akibat bakteri Chlamydia trachomatis . Dalam kasus yang terjadi, kista Bartholin biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, kista dapat terinfeksi bakteri sehingga terbentuk nanah menjadi abses Bartholin. Proses terbentuknya kista Bartholin : Kelenjar Bartholin memiliki saluran untuk menge

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.