Skip to main content

Rapid test and laboratory test Covid-19

Covid-19 examination using Rapid Test antibodies or antigens in cases of contact with positive patients Covid-19. Rapid antibody tests are also used to detect cases of people under surveillance and patients under surveillance in areas that do not have RT-PCR examination facilities. Rapid antibody examination results remain confirmed using RT-PCR.


In a health facility, patients will be divided into three groups :
➡ Group of people without symptoms (this group will undergo an antibody Rapid Test, if results) :
  • Negative : an independent quarantine is carried out by applying clean and healthy life, physical distancing, then re-checking on day 10. If the re-examination results are positive, followed by RT-PCR examination twice, for two consecutive days.
  • Positive : independent quarantine is implemented by implementing clean and healthy living, physical distancing. In this group also will be confirmed by RT-PCR examination twice, for two consecutive days.
➡ Monitoring people group (this group will undergo rapid antibody examination, if results) :
  • Negative : isolate yourself at home by implementing a clean and healthy life, physical distancing, then re-examination on day 10. If the re-examination results are positive, proceed with RT-PCR examination twice, for two consecutive days.
  • Positive : self isolation at home by implementing clean and healthy living, physical distancing. In this group also will be confirmed by RT-PCR examination twice, for two consecutive days.
Patient group under surveillance (this group will undergo rapid antibody testing, if results) :
  • Negative : isolate yourself at home by implementing a clean and healthy life, physical distancing, then re-examination on day 10. If the re-examination results are positive, proceed with RT-PCR examination twice, for two consecutive days. If symptoms worsen, ask for treatment at the hospital.
  • Positive : isolation at home (mild symptoms), isolation in emergency hospitals (moderate symptoms), isolation in government referral hospitals (severe symptoms). In this group also will be confirmed by RT-PCR examination twice, for two consecutive days.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.