Skip to main content

Indonesia dihimbau waspada penyebaran penyakit Pneumonia Wuhan

Penyakit Pneumonia Wuhan sedang menyebar luas di China dan menjadi perhatian dunia untuk segera menyelidiki kasus tersebut. Penyebaran Pneumonia Wuhan sangat cepat dan belum diketahui secara jelas mekanismenya.


Tercatat hingga saat ini terdapat 59 pasien yang terinfeksi, 7 pasien dalam kondisi kritis dan 1 pasien meninggal dunia. Kasus Pneumonia Wuhan pertama kali ditemukan pada 12 Desember 2019.

Gejala. 
  • Demam.
  • Batuk.
  • Kesulitan bernafas. 
  • Hasil radiografi akan menunjukkan infiltrate bilateral di paru.
Penyebab Pneumonia Wuhan, yaitu akibat infeksi coronavirus. Jenis virus dari family yang menyebabkan penyakit SARS dan MERS. 

Komite Kesehatan Kota Wuhan China, menyatakan :
  • Hingga saat ini belum ditemukan bukti nyata penyebaran antar manusia ke manusia (human to human transmission).
  • Survei epidemiologi menemukan sebagian pasien bekerja di Wuhan South China Seafood City (South China Seafood Wholesale Market) dan Hua Nan Seafood market. Hasil ini menyimpulkan kemungkinan zoonotic sebagai sumber penyebaran penyakit ini. Tidak hanya makanan laut, pasar tersebut juga menjual ayam, kelelawar, kucing, marmut dan hewan liar lainnya.
Terdapat 6 jenis coronavirus, empat di antaranya merupakan virus yang umum menginfeksi manusia, namun hanya menimbulkan manifestasi klinis ringan berupa flu-like symptoms, antara lain :
  1. 229E (alpha coronavirus).
  2. NL63 (alpha coronavirus).
  3. OC43 (beta coronavirus).
  4. HKU1 (beta coronavirus). 
Sedangkan dua jenis lainnya adalah jenis yang lebih mematikan, yaitu :
  1. MERS-CoV (beta coronavirus) : menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome/MERS). 
  2. SARS-CoV (beta coronavirus) : menyebabkan sindrom pernafasan akut/SARS). 
Pencegahan. 
Rekomendasi “Watch – Level 1, Practice Usual Precaution” untuk kasus Pneumonia Wuhan, yang perlu dilakukan jika akan berkunjung ke Wuhan, antara lain :
  • Menghindari hewan, pasar hewan dan produk hewan (daging mentah).
  • Menghindari kontak dengan pasien.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air minimal 20 detik.
  • Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol, apabila tidak tersedia air.
  • Gunakan masker untuk operasi (surgical mask). 
Tanda-tanda yang perlu dicurigai Pneumonia Wuhan. 
  • Pasien menunjukkan gejala demam, batuk, kesulitan bernafas dengan onset dalam 2 minggu setelah meninggalkan kota Wuhan China. 
  • Tampak infiltrat bilateral paru.
  • Riwayat pergi ke Wuhan China sejak tanggal 1 Desember 2019 dan setelahnya. 
Catatan :
  • Dokter dan tenaga medis yang menangani pasien dengan kecurigaan akan Pneumonia Wuhan, dihimbau untuk selalu menggunakan alat pelindung diri masker N95 dan pelindung mata. 
  • Pasien sebaiknya dirawat di ruang isolasi.
Kondisi di Indonesia. 
Hingga saat ini Indonesia masih aman dari penyebaran virus Pneumonia Wuhan. Menteri Kesehatan telah menghimbau agar masyarakat Indonesia tetap tenang dan waspada karena upaya pencegahan telah dilakukan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di pintu masuk bandara/pelabuhan.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.