Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh leptospira interogans. Infeksi Leptospirosis terjadi melalui :
- Paparan secara langsung dengan hewan terinfeksi (direk).
- Paparan secara tidak langsung melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan tersebut (indirek).
Tikus (rattus norvegicus) merupakan sumber utama infeksi penyakit Leptospirosis. Kasus Leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi dan terus meningkat. Pada tahun 2009 terjadi 335 kasus Leptospirosis dan terus meningkat hingga tahun 2013 dengan jumlah 651 kasus.
Laporan kasus.
Anak laki-laki usia 12 tahun, datang ke rumah sakit. Diketahui berdomisili di Tangerang. Area demografis kota Tangerang memiliki sungai yang mengalir di tengah kota dan sebagian wilayahnya sering terkena banjir saat musim hujan. Daerah ini merupakan daerah endemis terhadap dengue dan tifoid.
Anamnesa :
- Demam sejak 3 hari.
- Nyeri kepala.
- Lemah.
- Myalgia.
Pemeriksaan fisik :
- Pasien masih sadar dan anikterik.
Tanda-tanda vital ➡
- Tekanan Darah : 110/70 mmHg.
- Denyut Nadi : 100 kali/menit.
- Laju Nafas : 22 kali/menit.
- Suhu : 38°C.
Pemeriksaan penunjang dan follow-up :
- Setelah hemodialisa, parameter laboratorium tampak membaik, sehingga pada hari ke-21 pasien dapat dipulangkan.
- Kondisi klinis pasien membaik dan fungsi renal sudah normal.
- Pemeriksaan Micro-agglutination Test (MAT) dilakukan untuk membandingkan hasil titer leptospira serogroup bataviae pada hari ke-1, ke-10 dan ke-20.
- Peningkatan titer tampak pada awal dengan nilai < 1 : 20 dan 1 : 640 pada hari terakhir.
Kesimpulan.
- Pada kasus ini tampak pentingnya mempertimbangkan kasus leptospirosis pada kasus demam akut. Meski tanda dan gejala lebih mengarah pada penyakit dengue atau tifoid.
- Pemeriksaan sedini mungkin dan spesifik penting dilakukan untuk mencegah terjadinya progresivitas penyakit tersebut.
- Pada kasus ini didapatkan peningkatan transaminase, amilase, lipase dan CK sebanyak 2-3 kali lipat, mengindikasikan adanya gangguan hepar, pankreas dan rhabdomyolysis.
- Pemeriksaan lain ditemukan anemia hemolitik, peningkatan BUN dan kreatinin mengindikasikan abnormalitas dari hematologi dan kerusakan renal akut (Acute Renal Injury).
- Kasus anemia yang persisten dapat berhubungan dengan Hemolytic Uremic Syndrome yang merupakan derajat berat dari leptospirosis.
- Gejala sesak dan efusi pleura menandakan adanya gangguan fungsi paru.
- Penurunan kesadaran hingga nilai GCS = 7 merupakan tanda dari gangguan neurologis.
- Kasus leptospirosis derajat berat jarang terjadi, sebagian besar merupakan infeksi asimptomatik sehingga sering terjadi misdiagnosis dengan infeksi dengue atau salmonella.
- Pemeriksaan penunjang konfirmasi seperti MAT hanya tersedia pada dua rumah sakit di Indonesia. Kurangnya fasilitas, maka anamnesa riwayat paparan, penemuan pemeriksaan penunjang seperti leukositosis, peningkatan ANC, CK, fungsi renal dan hepar dapat menjadi pertimbangan untuk diagnosis Leptospirosis.
- Diagnosis awal sangat penting untuk klinisi agar dapat memulai terapi antibiotik secara dini sehingga menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.

Comments
Post a Comment