Skip to main content

Dasar pemberian antimikrobial untuk prostatitis akut

Prostatitis akut adalah infeksi akut bakteri pada prostat. Infeksi disebabkan oleh bakteri yang masuk ke prostat dari saluran kemih dan terjadi secara spontan atau setelah tindakan medis seperti biopsi prostat. Infeksi dapat menyebabkan komplikasi seperti retensi urin akut dan abses prostat. 


Pasien prostatitis perlu mendapatkan terapi antibiotik. Berikut ini, dasar strategi pemberian antimikrobial untuk prostatitis akut dengan tujuan untuk mengeoptimalkan penggunaan antibiotik dan mengurangi resistensi antibiotik.

Antibiotik diberikan pada pasien prostatitis akut dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain :
  • Beratnya gejala.
  • Risiko terjadinya komplikasi atau kegagalan terapi, terutama setelah tindakan medis seperti biposi prostat.
  • Pemeriksaan kultur dan suseptibilitas urin.
  • Penggunaan antibiotik sebelumnya yang dapat menyebabkan resistensi bakteri.
  • Sampel urin pancar tengah (midstream) harus diambil sebelum pemberian antibiotik dan dikirim untuk pemeriksaan kultur dan suseptibilitas.
Tindakan setelah hasil kultur urin tersedia :
  • Pilihan antibiotik perlu ditinjau ulang.
  • Apabila bakteri mengalami resistensi, antibiotik perlu diganti sesuai dengan hasil suseptibilitas dengan menggunakan antibiotik spektrum sempit apabila memungkinkan.
Saat pemberian antibiotik, pasien perlu diberikan informasi mengenai :
  • Perjalanan prostatitis akut pada umumnya.
  • Efek samping dari antibiotik, seperti diare dan mual. 
Pasien harus mencari bantuan medis apabila :
  • Gejala memburuk.
  • Gejala tidak membaik dalam waktu 48 jam pemakaian antibiotik. 
  • Kondisi sistemik pasien sangat buruk.
Lakukan pemeriksaan ulang apabila gejala memburuk dengan mempertimbangkan :
  • Kemungkinan diagnosis lain. 
  • Adanya tanda atau gejala yang mengarah ke penyakit atau kondisi yang lebih serius.
  • Kondisi lain, seperti retensi urin akut, abses prostat atau sepsis.
  • Penggunaan antibiotik sebelumnya yang menyebabkan resistensi bakteri.
Pasien dirujuk apabila :
  • Gejala tidak membaik dalam waktu 48 jam setelah inisiasi antibiotik. 
  • Tanda dan gejala mengarah ke penyakit atau kondisi yang lebih serius.
Rawat inap. 
Pasien dengan prostatitis akut disarankan untuk menggunakan parasetamol (dengan atau tanpa opioid dosis rendah, seperti kodein) untuk meringankan nyeri.
  • Ibuprofen juga dapat digunakan apabila dirasa lebih sesuai.
  • Pasien disarankan minum cukup cairan untuk menghindari dehidrasi
Pemilihan antibiotik.  
  • Dalam memberikan antibiotik untuk pasien prostatitis akut, perlu dipertimbangkan data resistensi antimikrobial lokal.
  • Antibiotik oral harus diberikan sebagai lini pertama apabila pasien dapat minum obat oral dan keparahan kondisinya tidak memerlukan antibiotik intravena.
  • Antibiotik intravena harus ditinjau ulang dalam 48 jam dan pengalihan ke antibiotik oral perlu dipertimbangkan apabila memungkinkan.
Terapi antibiotik harus ditinjau ulang setelah 14 hari dan dapat dihentikan atau dilanjutkan untuk 14 hari setelahnya apabila diperlukan, berdasarkan : 
  • Penilaian dari riwayat.
  • Gejala.
  • Pemeriksaan klinis.
  • Pemeriksaan urin dan darah pasien.
Antibiotik untuk pasien usia > 18 tahun :
Antibiotik Oral ➡ Antibiotik oral pilihan pertama (disesuaikan dengan hasil suseptibilitas apabila tersedia). 
  • Siprofloksasin : 500 mg, 2 × sehari selama 14 hari, kemudian tinjau kembali. 
  • Ofloksacin : 200 mg, 2 × sehari selama 14 hari, kemudian tinjau kembali. 
Alternatif antibiotik oral pilihan pertama apabila pasien tidak dapat menggunakan florokuinolon (disesuaikan dengan hasil suseptibilitas apabila tersedia). 
  • Trimetoprim : 200 mg, 2 × sehari selama 14 hari, kemudian tinjau kembali. 
Antibiotik oral pilihan kedua (setelah diskusi dengan spesialis). 
  • Levofloksasin : 500 mg, 1 × sehari selama 14 hari, kemudian tinjau kembali.
  • Kotrimoksazole : 960 mg, 2 × sehari selama 14 hari, kemudian tinjau kembali. 
Antibiotik intravena. 
Antibiotik intravena pilihan pertama (apabila tidak dapat mengkonsumsi antibiotik oral atau kondisi sangat buruk, disesuaikan dengan hasil suspetibilitas apabila tersedia). Antibiotik dapat dikombinasi apabila dicurigai terdapat sepsis. 
  • Siprofloksasin : 400 mg, 2 atau 3 × sehari.
  • Levofloksasin : 500 mg, 1 × sehari.
  • Sefuroksim : 1,5 gram, 3 atau 4 × sehari.
  • Seftriakson : 2 gram, 1 × sehari.
  • Gentamisin : Dosis inisial 5-7 mg/kg, 1 × sehari, dosis selanjutnya disesuaikan dengan konsentrasi gentamisin serum.
  • Amikasin : Dosis inisial 15 mg/kg, 1 × sehari (maksimal per dosis 1,5 gram sekali sehari), dosis selanjutnya disesuaikan dengan konsentrasi amikasin serum (maksimal 15 gram).
Disarankan untuk konsultasi dengan ahli mikrobiologi lokal untuk pemilihan antibiotik intravena pilihan kedua. 

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.