Skip to main content

Infeksi Herpes pada mulut (Gingivostomatitis Herpetik)

  • Infeksi Herpes mulut primer (Gingivostomatitis Herpetik Primer, Herpes Labialis) adalah suatu infeksi awal oleh virus herpes simpleks yang dengan segera bisa menyebabkan terbentuknya luka yang terasa nyeri di gusi dan bagian mulut lainnya.
  • Infeksi Herpes mulut sekunder (Herpes Labialis Berulang) adalah suatu reaktivasi (pengaktivan kembali) virus lokal yang menyebabkan terbentuknya cold sore (luka di dekat mulut akibat demam).

Penyebab. 
Virus Herpes Simpleks.

Gejala. 
  1. Secara khusus, seorang bayi mendapatkan virus herpes simpleks dari orang dewasa yang memiliki cold sore.
  2. Infeksi awal pada bayi (herpes primer) menyebabkan peradangan gusi dan sakit mulut yang luar biasa. Bisa terjadi demam, pembengkakan kelenjar getah bening di leher sehingga anak menjadi rewel.
  3. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan menghilang dengan sendirinya. Orang tua seringkali menduganya akibat dari pertumbuhan gigi atau penyakit lainnya.
  4. Dalam 2-3 hari, timbul lepuhan yang sangat kecil (vesikel) di mulut. Vesikel ini mungkin tidak disadari karena mereka segera pecah dan meninggalkan luka terbuka di mulut.
  5. Rasa sakit dirasakan di seluruh mulut, terutama gusi.
  6. Seminggu kemudian anak akan membaik, tetapi virus herpes simpleks tetap berada dalam tubuhnya dan infeksi sering berulang di kemudian hari (herpes sekunder).
  7. Infeksi awal menyebabkan sakit yang menyebar di mulut, tetapi infeksi ulangan biasanya menyebabkan timbulnya cold sore (fever blister, lepuhan yang timbul karena demam).

Infeksi ulangan biasanya dipicu oleh :
  • Sengatan matahari pada bibir.
  • Demam.
  • Cuaca dingin.
  • Alergi makanan.
  • Cidera di mulut.
  • Pengobatan gigi.
  • Kecemasan.

  • 1-2 hari sebelum timbulnya lepuhan, penderita merasakan kesemutan atau rasa tidak nyaman (gejala prodroma) pada daerah dimana lepuhan akan muncul.
  • Perasaan ini sulit untuk diungkapkan, tetapi mudah dikenali pada seseorang yang sebelumnya menderita herpes.
  • Luka terbuka bisa timbul di bibir bagian luar dan kemudian terbentuk keropeng.
  • Di dalam mulut, luka ini paling sering ditemukan di langit-langit (palatum). Luka di mulut berawal sebagai lepuhan-lepuhan kecil yang dengan segera akan bergabung dan membentuk luka merah yang menimbulkan nyeri.
Pada sebagian besar penderita, infeksi ulangan dari herpes simpleks labialis mungkin hanya menimbulkan sedikit gangguan nyeri, tetapi hal ini bisa berakibat fatal pada :
  1. Penderita kelainan sistem kekebalan (misalnya AIDS). 
  2. Penderita yang menjalani kemoterapi.
  3. Penderita yang menjalani terapi penyinaran.
  4. Penderita yang menjalani pencangkokan sumsum tulang.
  5. Pada orang-orang tersebut, luka terbuka di mulut yang berukuran besar bisa mengganggu makan dan penyebaran virus ke otak bisa berakibat fatal.

Diagnosa. 
  1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan hasil biakan dari luka.
  2. Pemeriksaan fisik juga bisa menunjukkan adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher atau selangkangan.
  3. Tes Tzanck atau biakan virus dari luka di kulit bisa menunjukkan adanya virus herpes.
Pengobatan. 
  1. Tujuan pengobatan pada herpes primer adalah untuk mengurangi rasa sakit, sehingga penderita bisa tidur, makan dan minum secara normal.
  2. Rasa nyeri bisa menyebabkan anak tidak mau makan dan tidak mau minum. Bila disertai demam, hal ini bisa dengan segera menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Karena itu anak yang sakit harus minum cairan sebanyak mungkin.
  3. Untuk mengurangi nyeri pada penderita dewasa atau anak yang lebih besar, bisa digunakan obat kumur anestetik (misalnya lidokain) atau bisa juga diberikan obat kumur yang mengandung baking soda.
  4. Pengobatan pada herpes sekunder akan efektif bila dilakukan sebelum munculnya luka, yaitu segera setelah penderita mengalami gejala prodroma.
  5. Mengkonsumsi vitamin C selama masa prodroma bisa mempercepat hilangnya cold sore.
  6. Melindungi bibir dari sinar matahari secara langsung dengan mengoleskan lip balm yang mengandung tabir surya untuk mengurangi kemungkinan timbulnya cold sore.
  7. Sebaiknya penderita juga menghindari kegiatan dan makanan yang bisa memicu terjadinya infeksi ulangan.
  8. Penderita yang sering mengalami infeksi ulangan bisa mengkonsumsi lisin.
  9. Salep asiklovir bisa mengurangi beratnya serangan dan menghilangkan cold sore lebih cepat.
  10. Lip balm seperti jelly petroleum dapat menghindari bibir pecah-pecah dan mengurangi resiko tersebarnya virus ke daerah di sekitarnya.
  11. Obat antivirus yang dapat digunakan antara lain : acyclovir, famciclovir, valacyclovir.
  12. Untuk mencegah terjadinya infeksi oleh bakteri, maka antibiotik diberikan kepada penderita dewasa yang memiliki luka hebat.
  13. Untuk kasus-kasus yang berat dan untuk penderita yang memiliki kelainan sistem kekebalan, bisa diberikan kapsul asiklovir.
  14. Kortikosteroid tidak digunakan untuk mengobati herpes simpleks karena bisa menyebabkan perluasan infeksi.
Pencegahan. 
Tindakan berikut bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya herpes labialis :
  1. Menghindari kontak langsung dengan cold sore atau luka herpes lainnya.
  2. Memperkecil kemungkinan terjadinya penularan secara tidak langsung dengan cara mencuci benda-benda yang telah digunakan oleh penderita dengan air panas (lebih baik direbus).
  3. Tidak memakai benda bersama-sama dengan penderita herpes, terutama ketika lukanya sedang aktif.
  4. Menghindari faktor pencetus (misalnya sinar matahari). 



Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.