Skip to main content

Obat Oksitosin

  • Jenis obat : Hormon neurohipofisis sintetis. 
  • Golongan : Obat resep. 
  • Manfaat : Memicu kontraksi pada rahim. Mengatasi perdarahan setelah proses persalinan. 
  • Dikonsumsi oleh : Dewasa. 
  • Bentuk obat : Obat suntik. 

Peringatan. 
  • Bagi wanita yang sedang hamil atau menjalani persalinan, penggunaan oksitosin harus sesuai anjuran dan dengan pemantauan dokter.
  • Harap berhati-hati bagi yang berusia di atas 35 tahun, memiliki kontraksi rahim yang lemah, tidak merespons terhadap oksitosin, berisiko mengalami penggumpalan darah, pernah menjalani operasi caesar, menerima prostagladin melalui vagina dalam enam jam terakhir, serta menderita hipertensi, gangguan ginjal, gangguan hati, gangguan kardiovaskular, dan toksemia.
  • Oksitosin sebaiknya dihindari oleh ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal, misalnya karena memiliki panggul yang kecil, menderita plasenta previa, atau mengalami kontraksi rahim yang terlalu kuat.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.
Dosis Oksitosin. 
Dalam persalinan, oksitosin umumnya diberikan melalui infus dengan dosis yang ditentukan oleh dokter per menit. Dosis akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan mungkin diubah seiring berjalannya proses persalinan. Dalam proses persalinan, pengaruh obat ini pada detak jantung bayi dalam kandungan juga harus dipantau.
Mengonsumsi Oksitosin dengan Benar. 
  • Oksitosin harus diberikan dengan dosis yang tepat sesuai yang dibutuhkan sehingga harus diberikan oleh petugas medis sesuai dengan anjuran dan pemantauan dokter.
  • Perhatikan isi kemasan oksitosin sebelum digunakan. Cairan oksitosin harus bening dan tanpa partikel. Jangan digunakan jika cairan telah berubah warna, berisi partikel, atau kemasannya bocor. Mintalah pada petugas medis untuk memberikan yang baru.
Kenali Efek Samping dan Bahaya Oksitosin.
Semua obat tentu memiliki efek samping, begitu juga dengan oksitosin. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat diberikan obat ini meliputi :
  • Mual.
  • Muntah.
  • Sakit kepala.
  • Kontraksi rahim yang berlebihan.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis ruam gatal di bawah payudara (Tinea corporis et regio thoracal) dan obatnya

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 28 tahun datang dengan keluhan sebagai berikut : Ruam di kulit bagian bawah payudara sejak seminggu. Ruam terasa gatal terutama saat berkeringat. Awalnya ruam berukuran kecil dan semakin membesar. Memakai pakaian ketat. Jarang mengganti pakaian saat berkeringat. Riwayat alergi (tidak ada). Riwayat diabetes melitus (tidak ada). Riwayat pemakaian lotion ataupun bedak di area tersebut (tidak ada). Riwayat hamil (tidak ada). Riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal (tidak ada). Keterangan : pasien telah memakai obat gentamisin krim selama 3 hari namun ruam tidak membaik. Status dermatologi : Terdapat plak eritema berbatas tegas dengan central healing. Diagnosis medis : Tinea corporis et regio thoracal. Untuk membuktikannya bisa dilakukan skin scraping dan diKOH mencari hifa dan spora. Terapi yang diberikan : Loratadin 2 x 1 tab. Mikonazol cream 2 x 1 ue dioles tipis. Obat golongan azole dan diberikan selama...