Skip to main content

Ketahui tanda kegawatan infeksi virus Dengue pada anak

Apabila bertemu kasus pasien anak dengan infeksi virus dengue khususnya DBD, jangan lupa tanyakan tanda kegawatan (warning signs) dalam anamnesisnya. Hal ini sering dilupakan oleh dokter karena kasus DBD dengan warning signs perlu pemantauan lebih ketat.


Tanda kegawatan (warning signs).
Tanda kegawatan dapat terjadi pada tiap fase perjalanan penyakit infeksi virus dengue, seperti berikut :
  1. Tidak ada perbaikan klinis/perburukan saat sebelum atau selama masa transisi ke fase bebas demam/ sejalan dengan proses penyakit.
  2. Muntah yang menetap dan pasien tidak mau minum.
  3. Nyeri perut hebat.
  4. Gelisah atau perubahan tingkah laku mendadak.
  5. Perdarahan : epistaksis, feses berwarna hitam, hematemesis, menstruasi deras, warna urine gelap (hemoglobinuria/hematuria).
  6. Pusing/perasaan ingin terjatuh (giddiness).
  7. Pucat, tangan kaki dingin dan lembab.
  8. Diuresis kurang/ tidak ada selama 4-6 jam.

WHO memberi pedoman bahwa saat ini terapi virus untuk infeksi virus dengue antara lain :
  1. Cairan yang adekuat.
  2. Pemantauan tanda-tanda vital.
  3. Diuresis pasien (target anak adalah 0,5 - 1 ml/kgBB/jam).
  4. Cairan dapat berupa kristaloid, koloid atau transfusi darah sesuai dengan keparahan kondisi pasien.
  5. Terkecuali kasus DBD ensefalopati yang membutuhkam terapi tambahan.

Kapan pasien dapat dipulangkan ?
Pasien dapat dipulangkan apabila telah terjadi perbaikan klinis, sebagai berikut :
  1. Bebas demam minimal 24 jam tanpa menggunakan antipiretik.
  2. Nafsu makan telah kembali.
  3. Perbaikan klinis, tidak ada demam, denyut nadi teratur.
  4. Diuresis baik.
  5. Minimum 2-3 hari setelah sembuh dari shock.
  6. Tidak ada gencatan nafas akibat efusi pleura.
  7. Jumlah trombosit > 50.000. Pada umumnya jumlah trombosit akan meningkat ke nilai normal dalam 3-5 hari.

Edukasi untuk pasien DBD.
Jumlah kasus DBD umumnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya curah hujan. Di Indonesia jumlah kasus DBD umumnya meningkat sejak bulan Desember sampai dengan Mei setiap tahun. Pencegahan atau pemberantasan DBD dilakukan dengan cara membasmi nyamuk dan sarangnya, yaitu dengan melakukan tindakan 3M :
  • Menguras tempat penampungan air secara teratur seminggu sekali atau memberikan bubuk larvasida (abate).
  • Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
  • Mengubur/ menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

Penjelasan kasus.
Anak laki-laki usia 8 tahun, berat badan 24 kg, datang dengan keluhan sebagai berikut :
  1. Demam tinggi mendadak sejak 3 hari.
  2. Nyeri otot dan seluruh tubuh.
  3. Tidak ada batuk pilek.
  4. Timbul bintik merah di seluruh badan.

Pemeriksaan fisik :
  1. Tanda vital dibadan.
  2. Suhu tubuh 38,4°C.
  3. Petekie pada ekstremitas atas.
  4. Pemeriksaan lainnya dalam kondisi normal.

Pemeriksaan laboratorium :
  • Hemoglobin (Hb) = 11,3
  • Hematokrit (Ht) = 38%
  • Leukosit = 3.000
  • Trombosit = 92.000

Diagnosis medis :
Demam Berdarah Dengue derajat I.

Terapi yang diberikan :
  1. Minum air mineral 1600 ml/24 jam.
  2. Paracetamol 3 x 250 mg bila pasien demam atau nyeri.
  3. Pantau warning signs.
  4. Cairan kristaloid 18 tpm makro.


Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.