Skip to main content

Diagnosis banding Nefrolitiasis pada orang dewasa

Gejala batu ginjal dan ureter adalah kolik ginjal dan hematuria. Menimbulkan gejala asimptomatik atau atipikal, seperti :
  1. Nyeri perut akut.
  2. Nyeri panggul.
  3. Mual.
  4. Urgensi atau frekuensi kemih.
  5. Kesulitan buang air kecil.
  6. Nyeri penis maupun nyeri testis.


Diagnosis banding nefrolitiasis :
  • Nefrolitiasis dapat dibedakan dari gangguan uretra lainnya menggunakan computed tomography (CT).
  • Pencitraan ginjal, ureter dan kandung kemih harus dilakukan untuk memastikan adanya batu dan hidronefrosis.
  • Radiografi abdominopelvis, pielografi intravena (intravenous pyelography / IVP) dan resonansi magnetik (magnetic resonance / MRI) perut dan panggul, direkomendasikan untuk mengkonfirmasi nefrolitiasis : Dosis radiasi efektif dari radiografi abdominal tunggal adalah 0.8 mSv.
  • Dosis radiasi efektif untuk IVP adalah 3 mSv.
  • CT abdomen dan panggul sebaiknya dipilih untuk mendeteksi hidronefrosis dan akurasi diagnostik tertinggi untuk nefrolitiasis.
Tata laksana nefrolitiasis :
  1. Pasien harus dirawat secara konservatif dengan obat pereda nyeri dan hidrasi sampai batu keluar.
  2. Pasien disarankan untuk menyaring urin selama beberapa hari dan membawa batu yang keluar untuk dianalisis.
  3. NSAID dan opioid digunakan untuk mengendalikan rasa sakit : Terapi kombinasi dengan morfin intravena 5 mg dan ketorolak 15 mg untuk mengurangi rasa sakit yang besar sekitar 40 menit.
  4. Alpha blocker. Blocker saluran kalsium dan agen antispasmodik dalam kombinasi dengan atau tanpa glukokortikoid. Digunakan untuk meningkatkan laju lintasan batu ureter.
  5. Alpha blocker : tamsulosin 0.4 mg 1 × 1 hingga empat minggu untuk batu ureter >5mm dan diameter ≤ 10 mm.
  6. Pemblokir saluran kalsium : nifedipine.
  7. Pasien dengan batu ginjal >1.5 cm atau komposisi batu yang keras (sistin atau kalsium oksalat), dilakukan Shock Wave Lithotripsy (SWL).
  8. SWL dan ureteroskopi harus dipertimbangkan sebagai pengobatan lini pertama untuk batu ureter yang membutuhkan pengangkatan.
  9. Konsultasi urologis diperlukan pada pasien dengan urosepsis, cidera ginjal akut, anuria, mual atau muntah.
  10. Setelah fase batu akut, pasien harus dievaluasi untuk hiperkalsemia dan komposisi urin 24 jam.
  11. Pasien dianjurkan menambah asupan cairan.
  12. Pasien dengan batu kalsium juga dapat diobati dengan diuretik thiazidedan : Diet rendah natrium untuk kalsium urin tinggi, kalium sitrat untuk hipokitraturia, allopurinol untuk asam urat urin tinggi.
  13. Pasien dengan batu asam urat dapat diobati dengan kalium sitrat atau kalium bikarbonat untuk menetralkan urin maupun allopurinol.
  14. Pasien dengan batu sistin dapat diobati dengan asupan cairan tinggi, obat alkalinisasi kemih seperti tiopronin.
  15. Pasien dengan batu struvite membutuhkan pengangkatan batu lengkap dengan nephrolithotomy perkutan.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.