Skip to main content

Waspadai, kulit bersisik pada bayi (Seborrhea)

Bayi memiliki kulit yang masih tipis, sensitif dan belum dapat berfungsi secara sempurna. Hal ini menyebabkan bayi rentan mengalami masalah kulit. Terlebih lagi apabila kurang menjaga kebersihan tubuh anak dan lingkungan sekitar. Salah satu jenis masalah kulit yang sering di alami oleh bayi dan anak-anak yaitu seborrhea.


Seborrhea merupakan kondisi peradangan pada lapisan kulit bagian atas yang menyebabkan timbulnya sisik seperti kulit ular. Biasanya terjadi di bagian wajah, kepala atau bagian tubuh lainnya. Dalam istilah lain kondisi ini sering disebut dengan dermatitis seborrheic, dimana munculnya ketombe pada kulit kepala bayi. Hal tersebut berkaitan dengan hormon androgen pada ibu yang terpapar di dalam tubuh si kecil.

Timbulnya sisik pada kulit bayi merupakan kondisi yang normal di alami bayi akibat pengaruh hormon, tetapi apabila hal tersebut berlangsung cukup lama dan semakin memburuk maka akan berlanjut pada kondisi yang sebut dengan dermatitis seboroik. Dermatitis seboroik berbentuk kotembe berwarna kuning dan berminyak yang melekat pada kulit kepala.

Seborrhea pada umumnya terjadi di kulit kepala, akan tetapi pada kondisi tertentu ini dapat muncul dibagian wajah dan bagian tubuh lainnya. Seborrhea umumnya dialami oleh bayi baru lahir di usia tiga minggu dan akan menghilang dengan sendirinya di usia 6-9 bulan. 

Penyebab terjadinya seborrhea belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu yang masih ada di dalam tubuh bayi.

Gejala seborrhea antara lain:
  1. Bercak seperti sisik pada kulit.
  2. Bercak berwarna merah kekuningan di bagian kepala, alis, hidung, bibir dan terkadang bagian tubuh lainnya. 

Bayi atau anak yang beresiko mengalami seborrhea yaitu, anak yang cenderung mengalami atopik dimana anak tersebut akan bereaksi menyimpang terhadap bahan-bahan yang bersifat umum. Pada umumnya anak-anak yang cenderung mengalami atopik terlahir dari orang tua yang memiliki alergi terhadap benda-benda tertentu.

Selain pengaruh hormon, kondisi seborrhea dipengaruhi oleh jamur yang menginfeksi kulit si kecil. Menurut seorang ahli dermatologi di UAB Amerika Serikat menjelaskan bahwa, hasil penelitian menunjukan pada kondisi seborrhea terdapat jamur yang sering menyerang anak-anak. Jamur tersebut disebut jamur T Tonsurans yang bisa mengakibatkan tinea capitis atau ringworn yang di picu oleh infeksi jamur di kulit.

Tercatat sekitar 2%-5% kasus seborrhea yang menyerang bayi di usia 3 bulan pertama kehidupan. Pada orang dewasa, kasus seborrhea juga sering ditemukan pada usia 30-60 tahun dan risiko akan memuncak di usia 40 tahun. Berdasarkan hasil penelitian kelainan kulit seborrhea lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.