Skip to main content

Kenali risiko penyakit berdasarkan golongan darah

Mengetahui golongan darah bermanfaat jika suatu saat seseorang membutuhkan untuk memberi ataupun menerima donor darah dari orang lain. Selain itu, dengan mengetahui jenis golongan darah juga dapat membantu diri kita untuk mengetahui risiko gangguan kesehatan yang mudah menyerang tubuh. Mengetahui potensi risiko penyakit sejak awal akan sangat membantu untuk menentukan tindakan dan pencegahan apa yang harus dilakukan.


Golongan darah A.
Menurut penelitian, orang yang memiliki golongan darah A berpotensi tinggi mengalami kanker perut. Risiko penyakit kanker perut pada orang dengan golongan darah A lebih tinggi hingga 20%. Kanker perut adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama H. pylori yang dimiliki oleh hampir semua manusia. Namun bakteri ini mungkin menjadi lebih sensitif pada golongan darah tertentu, seperti A dan AB. Hal inilah yang menyebabkan kanker perut mengintai seseorang yang memiliki golongan darah A.
Golongan darah A juga memiliki risiko paling tinggi terhadap penyakit jantung. Untuk mencegah, batasi konsumsi daging yang diawetkan (sosis, kornet, bacon) yang mengandung banyak nitrat. Nitrat dalam tubuh dapat diubah menjadi komponen pendukung kanker. Makanan yang dianjurkan untuk seseorang yang memiliki golongan darah A, yaitu kelompok nabati. Sumber hewani bisa diperoleh dari ikan dan ayam kampung, ini pun dengan jumlah dan frekuensi yang harus dibatasi. Susu yang dianjurkan adalah mengonsumsi susu fermentasi (yoghurt), krim tanpa lemak, keju alami, dan telur dalam jumlah yang terbatas.

Golongan darah AB.
Serangan Jantung menjadi musuh terbesar bagi pemilik golongan darah AB. Sebuah studi mengatakan bahwa, pemilik golongan darah AB memiliki 23% risiko lebih besar mengalami sakit jantung dibandingkan dengan golongan darah lainnya.  Untuk mencegahnya lakukan olahraga secara rutin dengan tujuan melatih fungsi kognitif. Aktivitas fisik akan membawa lebih banyak oksigen ke otak. Lakukan latihan ringan selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu. 
Orang-orang dengan golongan darah AB juga berisiko mengalami masalah memori. Artinya, golongan darah AB rentan mengalami masalah dalam belajar dan proses mengingat. Latihlah otak dengan hal-hal baru, seperti belajar bahasa baru, membaca buku, bermain teka-teki dan hal-hal lainnya yang mengharuskan otak untuk bekerja.

Golongan darah B.
Penyakit yang sering dijumpai pada orang bergolongan darah B antara lain : 
  1. Kerusakan sistem syaraf.
  2. Susah tidur.
  3. Sakit kepala atau migrain.
  4. Kegemukan.
  5. Serangan jantung.
  6. Penyakit hati.
  7. Gangguan saluran empedu.
  8. Gangguan saat haid.
  9. Sakit tulang belakang.

Orang dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Golongan darah B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium.

Golongan darah O.
Beruntunglah orang dengan golongan darah O memiliki kekebalan terhadap penyakit jantung hingga 23% dibanding golongan darah lain. Golongan darah O juga disebut memiliki kekebalan terhadap kanker pankreas hingga 37%. Namun orang yang memiliki golongan darah O berisiko terserang penyakit tukak lambung akibat bakteri H pylori. 
Orang dengan golongan darah O juga berisiko sulit mendapatkan keturunan karena orang dengan golongan darah O memiliki produksi sel telur yang rendah. Golongan darah O harus memastikan kebutuhan nutrisi tercukupi dengan rutin makan buah dan sayur. Diperbolehkan makan daging sebanyak-banyaknya, kecuali daging olahan. Yang harus dihindari ataupun dibatasi yaitu mengonsumsi sayuran seperti kol, brokoli, kembang kol, sawi, pokcoi, toge, terong, jamur dan kentang.  

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.