Skip to main content

Bolehkah melakukan hubungan seksual saat keputihan?

Pahami perbedaan keputihan normal dan tidak normal yang biasa dialami oleh wanita.
Keputihan normal : ditandai dengan keluarnya cairan berupa lendir, berwarna putih bening, tidak gatal dan tidak berbau.
Keputihan tidak normal : ditandai dengan keluarnya cairan berupa lendir, berwarna kuning kehijauan dan berbau.


Kondisi ini disebabkan oleh jamur candidas albikan dan bakteri, keputihan perlu segera diobati agar tidak terjadi ke tahap yang lebih serius. Rasa gatal dan bau tidak sedap akan menimbulkan ketidaknyamanan dan mengurangi rasa percaya diri di depan pasangan.

Keputihan seringkali menjadi masalah bagi wanita, apalagi saat akan melakukan hubungan seksual dengan pasangan. 

Bolehkah melakukan hubungan seksual saat keputihan?

Menurut beberapa ahli, melakukan hubungan seksual saat keputihan tidak disarankan karena alasan-alasan berikut ini :
  1. Melakukan hubungan seksual pada saat keputihan akan beresiko terkena infeksi menular seksual seperti HIV atau apabila memiliki infeksi jamur.
  2. Risiko penularan infeksi pada pasangan sangat tinggi.
  3. Infeksi bakteri juga dapat menular pada janin bila terjadi pembuahan.
  4. Melakukan hubungan seks dalam kondisi keputihan dapat memperburuk rasa gatal dan sakit di area vagina karena adanya gesekan penis pada vagina.
  5. Pada saat ereksi dan keluar cairan akan bercampur dengan infeksi jamur sehingga menjadi kotor dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
  6. Berhubungan intim saat keputihan dapat mengurangi sensasi seksual.

Berikut ini tips untuk mengatasi keputihan, antara lain :
  1. Usahakan agar vagina selalu bersih dengan cara mencuci vulva dengan air hangat dan bilas vagina dari sisi depan ke belakang.
  2. Keringkan vagina menggunakan handuk atau tissu sampai benar-benar kering. Lakukan hal ini setiap selesai buang air kecil dan buang air besar.
  3. Gunakan produk pembersih vagina yang memiliki kandungan pH aman.
  4. Gunakan celana dalam yang menyerap keringan dan terbuat dari bahan katun.
  5. Jangan menggunakan celana yang terlalu ketat. 

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.