Skip to main content

Bahaya mengonsumsi minuman bersoda

Bagi anda pecinta minuman bersoda? Sebaiknya mulai waspada dan mengurangi kebiasaan tersebut.


Berikut ini bahaya mengonsumsi minuman bersoda bagi kesehatan :
Membahayakan ginjal.
Minuman bersoda dapat memicu kerusakan ginjal dan penurunan fungsi ginjal. Menurut para ahli, hal ini terkait dengan kandungan minuman bersoda, yakni pemanis buatan, pewarna buatan, kafein dan asam fosfat yang memperberat kerja ginjal.

Risiko diabetes meningkat.
Bagi penderita penyakit diabetes sangat dilarang untuk mengkonsumsi minuman bersoda yang tinggi gula. Hormon insulin yang ada di dalam tubuh penderita diabetes, tidak mampu mengubah zat gula tersebut menjadi gula otot (glikogen). Akibatnya, gula darah (glukosa) akan meningkat dan membahayakan kesehatan.

Memicu Obesitas.
Minuman bersoda mengandung kalori tinggi. Kalori yang masuk ke dalam tubuh dapat meningkatkan risiko kegemukan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang sering mengonsumsi minuman bersoda juga bisa mengalami obesitas. Di Amerika Serikat, tingkat obesitas anak-anak sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda. Obesitas merupakan salah satu pemicu munculnya berbagai penyakit seperti diabetes, stroke, kerusakan jantung koroner dan berbagai penyakit serius lainnya.

Risiko kerapuhan tulang.
Minuman bersoda mengandung asam fosfat. Dalam penelititan, asam fosfat dapat menyebabkan kerapuhan tulang. Asam fosfat bisa melarutkan kalsium yang ada di dalam tulang. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan mudah keropos.

Risiko kanker pankreas.
Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, minuman bersoda menjadi salah satu pemicu penyakit kanker pankreas. Dalam penelitian tersebut ditemukan 87% responden yang mengkonsumsi minuman bersoda 2 kali sehari mengalami peningkatan risiko terserang kanker pankreas. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 60524 responden (pengonsumsi minuman bersoda) selama 14 tahun. Hasilnya, sebanyak 87% mengalami risiko kanker pankreas yang terlihat melalui gejala-gejalanya.

Kerusakan gigi.
Banyak orang mengalami kerusakan gigi akibat mengkonsumsi minuman bersoda. Hal ini tentu saja akibat kandungan zat gula yang ada di dalam minuman tersebut. Tak hanya itu, asam fosfat juga turut memperburuk kerusakan gigi dengan cara melarutkan kalsium gigi.

Meningkatkan ketergantungan kafein.
Minuman bersoda mengandung kafein. Zat ini sejak dulu dikenal sebagai zat yang mampu membuat orang ketergantungan. Meskipun kafein mempunyai efek positif terhadap tubuh, efek negatif kafein ternyata lebih banyak, antara lain :
  1. Membuat jantung berdebar.
  2. Insomnia.
  3. Tekanan darah rendah.
Sebaiknya kurangi kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda. Gantikan dengan minum air mineral yang banyak setiap hari agar kesehatan tubuh tetap terjaga.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.