Skip to main content

Orchitis (peradangan testis), komplikasi dan cara pencegahannya

Testis merupakan kelenjar kelamin jantan pada alat reproduksi pria yang berfungsi menghasilkan sperma dan memproduksi hormon testosteron. Testis berjumlah dua buah dan dikenal juga dengan sebutan buah zakar. Salah satu gangguan kesehatan yang dapat menyerang testis, yaitu Orchitis. Orchitis adalah peradangan yang terjadi pada salah satu atau kedua buah testis. 


Orchitis menimbulkan rasa nyeri pada testis dan menjalar hingga selangkangan. Peradangan testis berhubungan dengan infeksi virus gondok (mumps). Pria yang menderita penyakit gondok, seminggu kemudian dapat berisiko mengalami peradangan testis.


Gejala orchitis, sebagai berikut :
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri pada salah satu atau kedua buah testis.
  • Testis mengalami pembengkakan.
  • Rasa nyeri yang ringan hingga parah.
  • Nyeri di sekitar selangkangan.
  • Sperma mengandung darah.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.
  • Nyeri ketika mengalami ejakulasi.


Orchitis dibagi menjadi 3 jenis, antara lain :
  1. Orchitis idiopatik, yaitu jenis orchitis yang muncul secara tiba-tiba tanpa diketahui dengan pasti penyebabnya.
  2. Orchitis bakteri, yaitu jenis orchitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
  3. Orchitis virus, yaitu jenis orchitis yang disebabkan oleh virus. Umumnya diderita oleh anak di bawah usia 10 tahun.


Macam-macam jenis bakteri dan virus yang dapat menyebabkan Orchitis.
Bakteri penyebab penyakit menular seksual, seperti :
  • Neisseria gonorrhoeae.
  • Chlamydia trachomatis.
  • Escherichia coli.
  • Klebsiella pneumoniae.
  • Pseudomonas aeruginosa.
  • Staphylococcus.
  • Streptococcus.
Bakteri penyebab penurunan sistem kekebalan tubuh, seperti :
  • My cobacterium avium complezm.
  • Crptococcus neoformans.
  • Toxoplasma gondil.
  • Haemophilus parainfluenzae.
  • Candida albicans.
Virus yang dapat menyebabkan Orchitis, seperti:
  • Coxsackievirus.
  • Varicella.
  • Echovirus.
  • Infectious.
  • Mononucleosis.

Faktor risiko penyakit Orchitis, antara lain :
  1. Kelainan bawaan pada saluran kemih.
  2. Menderita penyakit infeksi saluran kemih berulang-ulang.
  3. Tidak mendapat imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella).
  4. Memiliki riwayat operasi alat kelamin atau saluran kemih.
  5. Pria usia di atas 45 tahun lebih berisiko mengalami Orchitis.
  6. Berganti-ganti pasangan seksual.
  7. Melakukan hubungan seks dengan seseorang yang menderita penyakit menular seksual.
  8. Berhubungan seks bebas tanpa menggunakan kondom.
  9. Memiliki riwayat penyakit menular seksual.

Komplikasi penyakit yang mungkin terjadi akibat Orchitis, antara lain :
  • Peradangan epididimis kronis.
  • Abses skrotum.
  • Menyusutnya ukuran testis.
  • Kemandulan atau mengurangi tingkat kesuburan pria.

Usaha pencegahan penyakit Orchitis, sebagai berikut :
  • Imunisasi MMR.
  • Tidak melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan.
  • Gunakan kondom untuk mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual (PMS).
  • Pemeriksaan kelenjar prostat secara rutin setiap tahun.
  • Hindari mengangkat beban berat dan melakukan aktivitas berat.

Jika mengalami gejala Orchitis, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke bagian Urologi. Urologi adalah ilmu kedokteran yang mencakup tentang penyakit saluran kemih dan alat reproduksi.


Diagnosa penyakit Orchitis dilakukan sebagai berikut :
  1. Pemeriksaan fisik dengan mengetahui riwayat kesehatan dan gejala yang dirasakan.
  2. Pemeriksaan kelenjar getah bening di selangkangan.
  3. Pemeriksaan prostat untuk mengetahui adanya pembengkakan kelenjar prostat.
  4. Pemeriksaan sampel urine dan cairan kelamin.
  5. Pemeriksaan darah.
  6. Pemeriksaan USG untuk melihat aliran darah pada testis dan mendiagnosa adanya torsio testis. Torsio testis adalah kondisi terlilitnya serat dan jaringan sehingga menyebabkan suplai darah menuju skrotum (kantung zakar) terhambat.

Pengobatan dan penanganan Orchitis :
  1. Kompres testis dengan es untuk mengurangi rasa nyeri.
  2. Memberi antibiotik dan obat anti inflamasi, untuk membunuh bakteri dan mengobati peradangan.
  3. Operasi pengangkatan skrotum (kantung zakar).
  4. Pasien disarankan untuk istirahat total.

Jenis antibiotik yang dapat diberikan untuk pasien Orchitis, yaitu :
  • Ceftriaxone (rocephin).
  • Ciprofloxacin (cipro).
  • Doxycycline (vibramycin, doryx).
  • Azitromisin (zitthomax).
  • Gabungan trimetoprim dengan sulfametoksazol (baktrim, septra).
Jenis obat anti inflamasi yang dapat diberikan untuk pasien Orchitis, yaitu :
  • Ibuprofen (advil, motrin). 
  • Neproxen (aleve).

Setia hanya kepada satu pasangan merupakan hal dasar yang dapat mencegah segala gangguan penyakit kelamin. Melakukan aktivitas seksual yang sehat, dapat memperkecil risiko infeksi berbagai virus dan bakteri pada alat kelamin. Segera minta pertolongan dokter ahli apabila merasakan gangguan pada organ reproduksi untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah lagi.






Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.