Skip to main content

Benarkah minum urine bisa membuat awet muda?

Pada dasarnya air seni (urine) merupakan cairan tubuh yang memang harus dibuang. Urine bersumber dari hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui saluran pembuangan. Tubuh otomatis melakukan proses ekskresi untuk mengeluarkan urine sebagai hasil dari sisa metabolisme. Proses ekskresi adalah proses pembuangan sisa-sisa zat dari dalam tubuh. Urine sengaja dikeluarkan untuk membersihkan sel-sel darah dan menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.

image source : medicaljrcc


Pembuangan cairan tubuh dikerjakan oleh ginjal, dengan proses sebagai berikut :
  1. Aliran darah yang membawa sisa-sisa metabolisme masuk ke dalam ginjal dan disaring.
  2. Hasil dari penyaringan akan diserap kembali. Penyerapan kembali zat-zat disebut reabsorsi. Dalam proses reabsorsi zat-zat baik dalam cairan akan diserap kembali oleh tubuh dan sisanya akan dibuang. 
  3. Sisa zat yang tidak diserap tubuh akan masuk ke saluran tubuler, proses ini disebut sekresi tubuler. 
  4. Setelah proses sekresi tubuler, sisa zat akan melewati ureter dan dikumpulkan di dalam kandung kemih. 
  5. Setelah jumlahnya cukup banyak akan dikeluarkan melalui saluran uretra, menjadi cairan yang disebut urine. 

Sejauh ini belum ada pernyataan medis yang membuktikan bahwa minum urine bermanfaat untuk kesehatan tubuh manusia ataupun membuat awet muda. Melihat proses tubuh bekerja, sesungguhnya urine merupakan zat yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Tubuh dengan sendirinya sudah memilih zat yang dibutuhkan dan sisanya dibuang dalam bentuk urine. 


Sebagai sisa metabolisme, warna urine dapat dijadikan indikator kesehatan atau penyakit di dalam tubuh. 
  • Warna urine bening agak kekuningan : menandakan tubuh sudah cukup cairan atau bahkan cenderung berlebihan cairan.
  • Warna urine kuning : warna ini menandakan urine yang normal.
  • Warna urine kuning pekat : menandakan tubuh mengalami dehirasi yaitu kekurangan cairan tubuh. 
  • Warna urine kuning kemerahan : menandakan terjadinya peradangan atau infeksi di dalam tubuh, adanya gejala batu ginjal dan penyakit ganas yang menyebabkan urine bercampur darah. 
  • Warna urine coklat pekat seperti teh : menandakan adanya penyakit hepatitis. Urine berwarna cokelat disebabkan oleh kadar bilirubin yang meningkat akibat terjadinya kerusakan atau gangguan penyakit hepatitis.

Tes urine dapat dilakukan dengan dip tes, yaitu pemeriksaan urine menggunakan kertas laksmus yang dicelupkan ke dalam urine. 

Alasan minum urine untuk kesehatan tubuh secara medis belum dapat dibenarkan. Urine yang dikeluarkan bersamaan dengan bakteri justru berisiko mengancam kesehatan. Sebaiknya hindari segala sesuatu yang kebenarannya belum terbukti terutama dalam hal kesehatan tubuh.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.