Skip to main content

Logo pada kemasan obat. Penting dipahami!

Keterangan yang terdapat dalam kemasan obat sering kali lepas dari perhatian. Obat-obatan dibedakan menjadi beberapa golongan. Pengelompokan golongan obat bertujuan untuk keamanan dan ketepatan penggunaan sesuai penyakit yang diderita. Sebelum membeli dan meminum obat, sebaiknya baca dan pahami keterangan yang tertulis di kemasan.

image source: detikhealth


Perhatikanlah apa saja keterangan penting yang tercatat di kemasan obat, diantaranya :
  • Indikasi : Petunjuk, tanda gejala yang dapat menjadi alasan dilakukannya suatu tindakan.
  • Kontra Indikasi : obat tidak dianjurkan untuk mencegah makin parahnya penyakit atau terjadinya penyakit baru.
  • Peringatan dan Perhatian : hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan obat, misalnya jangan melampaui dosis yang dianjurkan, tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor/menjalankan mesin.
  • Efek samping : efek yang terjadi setelah minum obat, seperti kantuk, mual, dan gangguan pencernaan.


Perhatikan logo pada kemasan obat:

Logo Obat Bebas.
Logo obat bebas berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Obat bebas adalah obat yang bisa didapatkan tanpa resep dokter. Obat ini dijual bebas di warung. Yang termasuk golongan obat bebas contohnya ialah jenis paracetamol, vitamin dan oralit.

Logo Obat Bebas Terbatas.
Logo obat bebas terbatas berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam. Yang termasuk obat bebas terbatas adalah obat batuk, obat pilek, theophiline, allerine, dan obat anti septic. Obat golongan bebas terbatas merupakan obat keras yang masih bisa diakses tanpa resep dokter.
Di Indonesia jenis obat bebas terbatas disertakan tanda peringatan pada kemasannya.

Logo Obat Keras.
Logo obat keras berupa lingkaran berwarna merah dengan huruf K di dalamnya. Obat keras merupakan golongan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan dikategorikan dalam golongan obat keras. Contoh obat keras yaitu Alprazolam, Clobazam, Fluoxetine.

Logo Obat Narkotika.
Logo obat narkotika dan psikotropika berupa lingkaran dengan lambang palang di dalamnya. Narkotika adalah jenis obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan. Contohnya morfin dan petidin. Obat jenis narkotika memiliki efek penurunan kesadaran, menghilangkan rasa nyeri, bahkan mati rasa.



Di Indonesia, kemasan obat disertai tanda peringatan di dalamnya :

  • P1. Awas Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya.
  • P2. Awas Obat Keras. Hanya untuk bagian luar badan.
  • P3. Awas Obat Keras. Tidak boleh ditelan.
  • P4. Awas Obat Keras. Hanya untuk dibakar.
  • P5. Awas Obat Keras. Obat wasir, jangan ditelan.


Pahami logo dan istilah-istilah yang terdapat di dalam kemasan obat. Sehingga obat dapat diberikan dengan tepat sesuai penyakit yang diderita. Minta bantuan apoteker untuk menjelaskan apabila ada keterangan yang tidak dipahami dalam kemasan obat.









Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Brahma, benarkah penyakit kutukan? Simak penjelasannya dalam ilmu medis

Indonesia kaya akan budaya yang sebagian masyarakatnya masih mempercayai tahayul. Dalam masyarakat Betawi, dikenal penyakit Brahma yang konon terjadi akibat melewati tempat bekas orang berzina. Penyakit tersebut diyakini hanya bisa disembuhkan dengan cara disembur oleh dukun kemudian dioleskan campuran daun brahma merah, jamur pandan merah dan minyak kelapa. Pada kasus yang terjadi, penderitanya datang dengan keluhan demam, muncul lesi seperti bisul berisi air disertai rasa panas seperti terbakar, beberapa diantaranya sampai meninggal dunia. Dalam ilmu kedokteran tidak dikenal penyakit Brahma air ataupun Brahma api. Dilihat dari gejala fisiknya, penyakit tersebut masuk dalam kategori infeksi akut. Jenis infeksi akut salah satunya adalah sepsis. Hampir 95% gejala penyakit Brahma (yang disebut oleh orang betawi), sesungguhnya merupakan gejala sepsis. Sepsis adalah kondisi peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi bakteri ataupun mikroorganisme di dalam darah, uri...

Kasus medis gatal dan panas di leher (Dermatitis Venenata)

Penjelasan kasus. Seorang wanita usia 40 tahun, ibu rumah tangga sehari-hari menggunakan jilbab datang dengan keluhan sebagai berikut : Muncul plenting di kulit leher sejak 3 minggu (plenting yang dimaksud adalah vesikel-bula). Plenting terasa gatal dan panas. Oleh dokter dikatakan pasien mengalami herpes. Sudah diberi acyclovir zaft dan acyclovir tab, obat sudah habis namun tidak sembuh. Diagnosis medis : Lesi hanya soliter dan terbatas pada 1 regional saja, menurut saya ini bukan herpes. Herpes tidak tepat diberikan acyclovir cream untuk kasus herpes zoster. Dari anamnesis dan gambaran dermatologi, pasien menderita Dermatitis Venenata. Terapi yang diberikan : Tes Kalium hidroksida (KOH) 10% dan lampu wood. Metilprednisolon tab 3 x 4 mg. Natrium diklofenak tab 3 x 50 mg prn. Cetirizine tab 1 x 10 mg prn. Digenta cream 2 x 1 ue. Kontrol kembali 5 hari kemudian.

Kasus medis Tinea Corporis pada bayi dan obatnya

Penjelasan kasus. Bayi perempuan berusia 3 bulan, mengalami keluhan sebagai berikut : Terdapat bercak berwarna putih di kulit sejak 1 bulan. Awalnya bercak tersebut hanya sedikit, namun semakin meluas. Bayi menjadi rewel. Dimandikan 2 kali sehari dengan sabun bayi. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di keluarga. Diagnosis medis : Tinea Corporis. Differential diagnosis : Vitiligo. Pemeriksaan : Tes Kalium Hidroksida (KOH). Pemeriksaan lampu wood. Terapi yang diberikan : Mandi 2 kali sehari dengan air bersih dan sabun bayi. Pakaikan baju yang tipis dan nyaman untuk bayi. Jika bayi terlihat berkeringat segera keringkan, mandikan atau ganti pakaiannya. Hindari lingkungan yang panas dan lembab. Cetirizine drop 10mg/mL, 1 x 5 tetes. Ketoconazole 2% lotion, 2 x 1 ue oleskan. Kontrol kembali ke dokter 5 hari kemudian.